bertolak ke tempat yang lebih dalam

CorneaKhairany. Kontingen Sulawesi Selatan akan bertolak ke Papua untuk mengikuti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI pada 3 November 2021 atau dua hari sebelum pembukaan. Ketua National Paralympic Commite (NPC) Sulsel Kandacong mengatakan kontingen yang akan berangkat berjumlah 60 orang, yang terdiri dari atlet, pelatih dan ofisial. IbadahDoa pagi (Jumat, 03 September 2021) GKJW Jemaat Jember yang diadakan secara live streaming.Jangan lupa like, comment & subscribe untuk mendukung chann Diabertolak ke tempat yang lebih dalam. Dia menebarkan jalanya untuk menangkap ikan. Hasilnya adalah mereka mendapat sejumlah besar ikan sehingga jala mereka mulai koyak. Ya, itulah hasil ketaatan. Bisa dibayangkan ketika mereka harus bertolak ke tempat yang lebih dalam. Mengayuh perahu mereka lebih kencang dan mengeluarkan tenaga lebih banyak. Pelajaranyang bisa kita renungkan bersama melalui kisah Injil hari ini adalah kesediaan untuk bertolak ke "tempat yang lebih dalam". Tempat yang "dalam" di dalam kehidupan kita sehari-hari bisa dipahami sebagai tempat yang penuh dengan tantangan, ancaman, ketidakpastian, tetapi juga mengandung peluang. Banyak orang yang takut, enggan, tidak mau melangkah ke tempat yang dalam karena rasa takut yang ada pada dirinya. Balikkampung bercuti dan sebagainya. Menurut perancangan Ahmad akan bertolak dari Shah Alam pada hari Isnin dan akan bertolak pulang dari Kota Bahru ke Kuala Lumpur pada hari Jumaat. Justeru jikalau permusafirannya kurang dari 4 hari tidak termasuk hari masuk dan keluar dari tempat tersebut maka gugur ke atasnya untuk melakukan solat Jumaat. Rencontre Gratuit Pour Homme Et Femme. Minggu, 7 Februari 2016 Minggu Biasa V Yes 6 Mzm 138 1Kor 151-11; Luk 51-11 Yesus berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” DALAM bacaan Minggu lalu Lukas 421-30, kita berjumpa dengan Yesus Kristus yang mengajar banyak orang di sinagoga di Nazareth. Hari ini kita membaca bahwa Yesus menghadapi banyak orang di danau dan di sana Ia mengajar mereka. Kita dapat membayangkan bahwa bagi orang-orang ini, danau adalah segalanya air, ikan, makanan, transportasi, obyek keindahan dan kontemplasi. Namun bagi Yesus, danau dapat menyatakan misteri iman dan rencana ilahi. Di danau, Ia hendak membantu kita mengerti begitu banyak hal yang merupakan bagian dari kehidupan dalam perspektif iman. Pertama-tama, Yesus Kristus mengajar kita dengan memasuki perahu Simon dan menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya. Reaksi Simon mungkin juga menjadi reaksi kita. Tentu Simon lebih tahu dengan baik keadaan danau dibandingkan Yesus. Maka wajar bila SImon berkata kepada-Nya, “Guru, sudah sepanjang malam kami bekerja mencari ikan namun tidak menangkap apa-apa. Namun karena Engkau yang memintanya maka kuterbarkan jala juga. Kita lihat apa yang terjadi.” Simon gelisah dan lelah sudah sepanjang malam gagal mencari dan mendapatkan ikan, namun Ia tetap percaya kepada perkataan Yesus. “Karena perintah-Mu, maka kami terbarkan jala juga!” Di sini kita belajar untuk mendengarkan sabda Yesus dan menerima perintah-Nya, bahkan saat kita mengalami kekecewaan dan kegagalan. Yesus meminta kita untuk sesuatu yang membutuhkan iman dan melawan kesukaan kita pribadi. Kedua, Yesus Kristus hendak mengajar kita tentang kerendahan hati dan ketaatan untuk mewartakan sukacita Injil. Ketika Yesus Kristus melakukan sesuatu yang istimewa dalam hidup kita seperti yang dialami Simon, mungkin kita juga berkata, “Tuhan pergilah dari pada-Ku, sebab aku ini seorang berdosa!” Namun Yesus memanggil kita untuk bersaksi tentang sukacita Injil. Ia akan berkata pula kepada kita, “Jangan takut, Mulai sekarang Engkau akan menjala manusia!” Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita menyembah Yesus Krsitus kita belajar bertolak ke tempat yang dalam di kehidupan kita. Di sana kita juga hendak mendengarkan sabda-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Tuhan Yesus Kristus, sejak kami mulai relfeksi ini, kami merasakan Engkau mulai masuk ke dalam kapal kehidupan kami. Kami bertolak ke tempat yang dalam, jauh dari semua keprihatinan harian. Kami bertolak ke tempat yang dalam jauh dari hal-hal harian, untuk mendengarkan Engkau saja. Semoga kami menjadi sungguh-sungguh rendah hati dan penuh syukur sebab Engkau akan menghabiskan waktu-Mu untuk bersama kami secara pribadi dalam Sakramen Mahakudus kini dan selamanya. Amin. Kredit foto Ilustrasi Ist Bertolak ke Tempat yang Lebih Dalam in altum ducere adalah sebuah situs yang berisi refleksi filsafat dan teologi atas beragam fenomena. Manusia ibaratnya pelaut yang harus “bertolak ke tempat yang lebih dalam” untuk mendapatkan pengalaman yang mengesankan sekaligus mengalahkan dirinya untuk tidak berpuas diri menjadi “manusia rata-rata”, tetapi menjadi dirinya yang sejati. Ombak di “laut dalam” lebih besar dan menantang ketimbang di area pesisir. Orang yang menyadari bahwa hidup adalah petualangan life is an adventure pasti memilih untuk menghadapi ombak yang lebih besar. Kelak ia akan mensyukuri tindakan keberaniannya itu. Filsafat dan teologi bukan lagi konsumsi para teolog dan filsuf, melainkan kebutuhan semua orang, yang hidup di era teknologi-globalisasi dengan melonjaknya indeks infotech dan biotech, yang kian terbuai oleh semilir angin pantai namun lupa akan ombak besar di tengah lautan sana. Mari menantang diri di tengah “kenikmatan semu” jamuan teknologi-globalisasi. Be brave dan bertolaklah ke tempat yang lebih dalam! SELAMA tiga dekade hingga masuknya Jepang ke Bali, ternyata Belanda lah yang turut berperan menciptakan pencitraan Bali yang masih langgeng kita kenal hingga hari ini tertib, damai, artistik, dan mencintai kebudayaan. Fakta di buku bertajuk Prosa Gerilya Mengurai Kisah Ngurai Rai tersebut menjadi wawasan baru tentang 'tangan' Belanda yang turut campur membentuk wajah Bali. Citra Bali yang lekat saat ini memang daerah dengan panorama indah berbalut keramahan penduduk yang bernaluri seni tinggi, memiliki adat unik, dan pemeluk Hindu yang taat. Hal itu menjadi daya pikat bagi banyak orang untuk bertandang, bahkan hingga berulang, ke wilayah yang dikenal dengan sebutan pulau dewata tersebut. Tidak mengherankan jika Bali acap diperhitungkan dalam daftar 10 destinasi paling populer dunia versi media berpengaruh, seperti Lonely Planet, Travel+Leisure, hingga Forbes. Sang penulis, Andre Syahreza, ingin memperlihatkan Bali dari sisi yang berbeda. Lewat Prosa Gerilya, ia membawa pembaca lebih dulu pergi ke masa lalu yang kemudian dikorelasikan dengan masa kini. Andre menggambarkan sisi lain Bali melalui perjalanan hidup I Gusti Ngurah Rai, pahlawan nasional yang namanya diabadikan menjadi nama bandara internasional Bali sejak 1969. Buku yang terdiri dari lima bab itu mengurai kisah hidup Ngurah Rai dari sejak kecil hingga menuntaskan perjuangaannya untuk Indonesia pada 1946. Sepanjang menelusuri jejak Ngurah Rai, Andre juga ikut mengupas nuansa Bali di waktu silam. Dimulai dari persinggahannya di Ubud yang lekat dengan suasana tenang, penuh rimbun pepohonan, dan jauh dari ingar bingar, dilanjut dengan menepi ke Desa Carangsari, tempat kelahiran Ngurah Rai, sekitar 10 km dari Ubud. Desa yang dewasa ini, seperti banyak tempat lain di Bali, sudah banyak dihiasi kafe-kafe nan instagramable. Belanda dan Balinisasi Di bab pertama, ada suguhan menarik lain tentang cikal-bakal Bali menjadi destinasi wisata terpopuler yang lagi-lagi disebut ada campur tangan Belanda. Pada halaman 62, misalnya, dikisahkan jika di akhir 1920-an, yang merupakan masa kecil Ngurah Rai, pemerintah Belanda menerapkan Baliseering yang kerap diartikan sebagai Balinisasi. Hal itu disebut menjadi upaya Belanda membentuk orang Bali dalam citra seperti yang ingin dilihat dunia Barat. Baliseering mewajibkan orang Bali untuk menggunakan pakaian tradisional, berbicara dalam bahasa Bali, hingga membangun rumah dengan arsitektur Bali. Jika tidak mengikuti aturan, bisa dikenakan konsekuensi hukum di pengadilan yang diawasi Belanda. Pada kurun waktu tersebut, rombongan wisatawan asing memang sudah mulai berdatangan dalam jumlah kecil, termasuk di antaranya antropolog Barat Margaret Mead dan Gregory Bateson yang sempat menetap di Bali. Pencitraan tersebut kemudian pun terus berlangsung meskipun Belanda sudah kalah di tangan Jepang pada 1942, waktu ketika Ngurah Rai sedang menyelesaikan akademi militer di Jawa Tengah. MI/Duta Memahami Ngurah Rai secara utuh Dalam buku itu, Andre menyajikan fakta sejarah yang mungkin baru bagi sebagian kalangan terkait dengan perjalanan hidup Ngurah Rai hingga akhirnya mampu memetakan taktik perang melawan Belanda dan berjuang dalam Perang Puputan Margarana. Jauh sebelum dilantik menjadi Komandan Resimen TRI Sunda Kecil yang wilayah kekuasaannya mencakup Bali hingga Nusa Tenggara dengan pangkat letnan kolonel, Ngurah Rai muda yang dikenal sebagai pendekar silat bergabung dengan Korps Prajoda, korps tentara kerja sama Belanda KNIL dengan kaum bangsawan Bali. Pengungkapan fakta itu, menurut penulis, bukan lantaran ingin mengubah persepsi tentang seorang pahlawan yang pernah ikut dalam barisan tentara Belanda. Ia ingin mencoba memahami sosok Ngurah Rai secara utuh sebagai seorang manusia, sebagai orang Bali, lebih dari sekadar pahlawan. Karena bagi penulis, kepahlawanan yang nasionalistis hanya mampu memotret satu aspek dari seorang tokoh dan menghilangkan aspek-aspek lain yang sejatinya justru membantu kita melihat tokoh bersangkutan sebagai seorang manusia biasa sebagaimana kebanyakan dari kita. Membaca sejarah dengan bahasa kekinian Buku setebal 204 halaman itu mengulas historis Bali yang bukan sekadar tempat pelesiran dengan kafe-kafe atau beach club kiwari. Meski bukan topik yang terbilang ringan, membacanya terasa mengasyikkan sebab sajian wajah Bali di masa kolonial yang berkelindan dengan figur I Gusti Ngurah Rai sebagai tokoh utama dibahasakan dengan begitu ringan. Beberapa kali penulis menyematkan kalimat-kalimat kekinian yang kerap terdengar di kalangan generasi Z. Cerita awal mula hingga akhir peperangan mengusir penjajah yang dikomandoi I Gusti Ngurah Rai banyak menyuratkan pesan-pesan inspiratif. Cerita tersebut bukan karangan atau sekadar pembacaan literasi dari sang penulis, melainkan hasil wawancara dari para saksi sejarah dan beberapa orang yang dekat dengan Ngurah Rai, baik di dalam maupun luar negeri. Umpama, sebagai pemimpin perang, nyatanya Ngurah Rai digambarkan Wayan Semadi atau Pan Pugeh yang ialah saksi sejarah, sebagai pribadi yang halus dengan sifat damai. Mungkin hal itulah yang membuat ribuan rakyat Bali bersedia berjuang bersama Ngurah Rai, seperti halnya Pan Pugeh yang rela mati demi sang pemimpin. Penulis juga menyertakan cuplikan surat sakti’ Ngurah Rai yang kemudian dibahasakan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang karib disapa Cok Ace. Dalam surat balasan Ngurah Rai atas ajakan berunding dari dua perwira Belanda, Termeulen dan Konig, yang pernah dibantunya menyeberang dari Bali ke Jawa ketika Jepang datang, ia berkukuh bahwa Bali bukan tempat untuk berkompromi. Jika ingin kompromi, ia mempersilakan berunding dengan pemerintah pusat. Hal itu lantas dimaknai sebagai sebuah kesadaran besar di masa itu jika Bali ialah bagian dari sesuatu yang lebih besar, yakni Indonesia. Di luar peta wisata Andre Syahreza, penulis kelahiran Jakarta itu, mengaku butuh waktu satu tahun dan melakukan tiga kali kunjungan ke Bali untuk mendapatkan data-data yang kemudian dikisahkan dengan tutur bahasa populer. Kecintaannya pada Bali, yang barangkali terpantik ketika dirinya menghabiskan masa remaja di Singaraja –Ibu Kota Sunda Kecil pada era Kolonial—kemudian berkuliah di Universitas Udayana dan merintis karier jurnalistik di Bali Post, membuat apa saja yang berkaitan dengan pulau dewata selalu menarik di matanya. "Tantangan terbesar setelah 13 tahun hiatus menulis buku itu bagaimana menuliskan kisah bersejarah agar menarik dibaca di masa sekarang. Buku ini saya tulis dengan membayangkan pembaca dari generasi milenial dan zilenial, dan duduk manis setiap hari selama 4-8 jam untuk menulis itu enggak gampang ternyata," kata Andre melalui surat elektronik, Jumat 9/6. Dari riset untuk buku keempatnya itu, Andre mengaku banyak menemukan hal menarik di luar persona Ngurah Rai yang ingin dibaginya juga kepada para pembaca. Salah satunya ialah pengalaman mengunjungi tempat-tempat yang tidak ada dalam peta wisata mainstream, seperti Desa Air Kuning di Kabupaten Jembrana, juga Desa Tanah Aron di Karangasem. Desa-desa tersebut merupakan rangkaian dari jejak perjuangan Ngurah Rai. "Ada sebuah desa di Bali bagian barat yang penduduknya ialah orang-orang Bali beragama Islam. Desa itu terasa seperti Banyuwangi kecil di Bali. Selain itu, saya bertemu saksi-saksi sejarah yang berusia di atas 90 tahun. Mereka pernah bertemu Ngurah Rai, atau ada dalam peristiwa pertempuran pada masa itu. Sepanjang penelusuran, saya bisa melihat sisi lain Bali yang jarang terlihat di brosur pariwisata," tuturnya. Menyimak buku ini, barangkali pembaca akan merasa seperti menyantap hidangan semacam nasi campur. Kadang terasa seperti membaca buku sejarah atau biografi, kadang juga seperti buku travelling. Kendati demikian, Prosa Gerilya Mengurai Kisah Ngurai Rai bisa dibilang nasi campur yang nikmat dan patut dibaca untuk memperluas cakrawala akan Bali dan sang pahlawan I Gusti Ngurah Rai. M-2 “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.’” Luk 5, 4 SEORANG Romo Paroki bercerita dengan rasa gembira, “Romo ada kabar baik neh. Peminat misa harian sudah bertambah banyak. Jumlahnya tidak hanya lima orang, tetapi sudah lebih dari lima belas orang. Selain itu, peminat misa Mingguan juga semakin bertambah banyak.” Ketika saya bertanya kiat-kiat yang dilakukan, romo itu menjawab, “Tidak ada resep khusus. Saya hanya meluangkan waktu untuk mengunjungi keluarga mereka satu per satu, mulai dari ujung utara ke selatan. Memang belum semua terkunjungi. Saya hanya melihat kehidupan mereka dan mendengarkan kisah hidup keluarganya. Tidak lebih dari itu.” Yang dilakukan oleh romo paroki itu adalah hal yang sederhana. Namun demikian, semangatnya berkaitan dengan apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Simon, yakni “Bertolaklah ke tempat yang dalam.” Romo itu tidak hanya tinggal di pastoran dan sibuk di dalam kamarnya. Dia tidak hanya menunggu umat beriman datang ke gereja dan melayani mereka selaras dengan jadwal yang ada. Dia tidak hanya mendengarkan laporan para pengurus lingkungan dan memenuhi permintaan misa dengan ujud tertentu. Dia berani keluar kamar dan meninggalkan pastoran untuk menjumpai umatnya. Dia masuk ke dalam setiap keluarga umatnya; melihat situasi dan kondisi senyatanya; melihat luapan kegembiraan dan suka cita yang mereka rasakan; mendengarkan keluh kesah atau keprihatinan mereka; menanggapi langkah-langkah mereka dalam mengatasi berbagai macam kesulitan; memberi peneguhan bagi mereka yang bimbang. Bertolak ke tempat yang dalam adalah kesediaan untuk masuk ke dalam kehidupan seseorang, berusaha mengenal dan memahami kondisi dan pergulatan hidupnya serta menerima realitas apa adanya. Bertolak ke tempat yang dalam tidak hanya berlaku bagi para gembala terhadap umat. Tetapi juga berlaku bagi para orang tua terhadap anak; bagi pimpinan terhadap karyawan; bagi pemuka masyarakat terhadap warganya. Bertolak ke tempat yang dalam merupakan usaha untuk mengenal sesama secara utuh dalam semua seginya. Pengenalan yang dalam akan membawa berkat atau banyak hal baik, seperti dialami oleh Simon. Di tempat yang dalam itulah dia bisa mendapatkan banyak ikan. Teman-teman selamat malam dan selamat beristirahat. Berkah Dalem. Kredit foto Ilustrasi Ist Kamis, 3 September 2020 Bacaan Injil Lukas 51-11 Yesus berkata kepada Simon “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan”. Simon menjawab “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Lukas 54-5 Ada seorang pemuda menyelesaikan kuliah S1-nya tujuh tahun lamanya. Dia sempat sharing kalau lebih enak jadi mahasiswa daripada harus bekerja. Jadi mahasiswa itu belum terikat pada jadwal jam kerja harian dan keharusan untuk menyelesaikan sejumlah pekerjaan serta hubungan komunikasi dengan bos, karyawan lain, customer yang tidak selalu berjalan mulus. Jadi mahasiswa juga masih bisa bangun siang kalau jam kuliahnya siang atau sore hari. Masih bisa “main”, jalan-jalan, kumpul-kumpul dengan teman. Tanggung jawabnya pun sebatas menghadiri kuliah, mendengar dosen ceramah di kelas, mencari buku-buku kuliah, mengerjakan tugas-tugas kuliah, UTS, UAS. Tetapi berbeda dengan orang yang sudah bekerja, ia memiliki tanggung jawab atas pekerjaannya, hubungan dengan atasan, sesama rekan kerja, bawahan yang harus dijaga baik-baik kalau ia mau tetap dipertahankan bekerja di salah satu perusahaan tempatnya bekerja. Dalam bacaan injil hari ini Yesus menyuruh Petrus untuk “bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan“. Jika dipikirkan lebih kritis, bagaimana mungkin seorang anak tukang kayu yang hidupnya jauh dari pantai mengatakan kepada orang yang berprofesi sebagai nelayan,“bertolaklah ke tempat lebih dalam dan tebarkanlah jalamu“? Pada awalnya Simon merasa ragu akan perkataan Yesus tersebut karena sudah satu malam menjala ikan tetapi tidak mendapatkan apapun. Selain itu, Yesus menyuruh Simon menjala ikan sesudah matahari terbit atau tengah hari. Akan tetapi karena ketaatannya kepada Yesus dan karena Yesus sendiri yang mengatakan, dia bersama teman-temannya berangkat ke tengah danau untuk menjala ikan. Setelah mereka menebarkan jala, mereka menangkap sejumlah ikan besar sehingga jala mereka mulai koyak. Pelajaran yang bisa kita renungkan bersama melalui kisah Injil hari ini adalah kesediaan untuk bertolak ke “tempat yang lebih dalam”. Tempat yang “dalam” di dalam kehidupan kita sehari-hari bisa dipahami sebagai tempat yang penuh dengan tantangan, ancaman, ketidakpastian, tetapi juga mengandung peluang. Banyak orang yang takut, enggan, tidak mau melangkah ke tempat yang dalam karena rasa takut yang ada pada dirinya. Banyak orang hanya mau berhenti pada tempat yang tidak terlalu dalam, karena tempat itu dirasa nyaman, sudah kita kuasai, sedikit mengandung resiko. Demikian pula siswa kerapkali hanya berhenti menggali pengetahuan sebatas apa yang diajarkan oleh guru mereka. Tidak berani untuk mengemukakan pendapatnya sendiri sebagai akibat dari studi mendalam terhadap materi pelajaran yang ia ambil, karena takut untuk ditentang, tidak disetujui, ditertawakan, dianggap tidak berkualitas pemikirannya. Selama rasa takut itu menyelimuti diri siswa tadi, selama itu pulalah dirinya tidak akan menemukan hal-hal yang baru di dalam pengetahuan dan keterampilannya. REFLEKSI Apakah selama ini kita mengikuti suara Tuhan yang ada dalam hati kita, atau ikut-ikutan dengan orang lain yang salah karena takut dianggap sok suci dan sok hebat? DOA Allah Tuhan kami ajarkan kami selalu agar kami selalu mengikuti hati nurani kami sebagai suaraMu dalam bertindak. Demi Kristus Tuhan kami. Amin. AKSI Mari kita selalu mengikuti suara hati kita untuk berbuat yang terbaik bagi sesama. Sumber Renungan BKSN Komisi Kateketik KAJ

bertolak ke tempat yang lebih dalam